Senin, 20 Juli 2026

Lulusan Sastra & Linguistik Susah Cari Kerja? Skill Kamu Justru Dicari di Digital Marketing


 "Mau kerja apa setelah lulus?" Pertanyaan ini terasa berat banget kalau kamu ambil jurusan Sastra atau Linguistik. Di kepala kebanyakan orang, lulusan humaniora itu pilihannya cuma dua: jadi guru, atau nganggur sambil nulis puisi. Bahkan kamu sendiri mungkin diam-diam ragu, "emang skill aku kepakai di dunia kerja beneran?"

Kabar baiknya, masalahnya bukan di jurusan kamu. Masalahnya, skill yang kamu punya belum pernah diterjemahkan ke bahasa yang dimengerti pasar kerja. Dan salah satu bidang yang justru sangat butuh cara berpikir anak sastra dan linguistik adalah digital marketing.

Ini bukan basa-basi motivasi. Mari kita bedah satu per satu skill kamu, dan ke mana persisnya skill itu nyambung.

Skill yang Kamu Kira "Cuma Teori", Padahal Dicari Mahal

Analisis teks jadi kemampuan memahami search intent. Selama kuliah, kamu dilatih membaca sebuah teks lalu bertanya: teks ini sebenarnya ngomong apa, buat siapa, dan tujuannya apa. Kemampuan close reading ini persis yang dibutuhkan di SEO. Ketika orang mengetik "harga sepatu lari" di Google, niatnya beda sama yang mengetik "sepatu lari vs sepatu basket", dan beda lagi sama "cara merawat sepatu lari". Kemampuan membaca niat di balik kata itu namanya search intent, dan itu fondasi seluruh content strategy. Banyak orang mengira SEO cuma soal menyebar kata kunci. Skill mahalnya justru ada di interpretasi, dan itu makanan kamu sehari-hari.

Retorika jadi copywriting. Kamu belajar retorika, majas, dan seni membujuk lewat bahasa. Copywriting itu retorika terapan. Kenapa satu headline bikin orang klik dan yang lain diabaikan? Kenapa satu CTA bikin orang beli? Itu soal framing, ethos, pathos, logos, hal yang sudah kamu pelajari, cuma dengan nama yang lebih akademis. Sekarang skill itu dipakai untuk menulis caption, iklan, dan email yang menghasilkan penjualan.

Sosiolinguistik jadi tone of voice. Sosiolinguistik mengajarkan kamu bahwa bahasa berubah tergantung konteks dan lawan bicara. Di dunia brand, ini namanya tone of voice. Erigo bicara santai dan jenaka ke anak muda, sementara brand B2B bicara formal ke perusahaan. Memilih register yang pas untuk tiap platform (LinkedIn beda sama TikTok, beda lagi sama Instagram) itu keputusan sosiolinguistik. Kamu sudah punya kerangkanya.

Analisis wacana dan struktur naratif jadi content strategy. Kamu terbiasa membedah bagaimana sebuah teks dibangun dan bagaimana alur menuntun pembaca. Di marketing, ini menjadi content architecture dan brand storytelling. Brand seperti Somethinc atau Kopi Kenangan tidak cuma jualan produk, mereka membangun narasi. Menyusun konten dari tahap orang belum kenal brand sampai akhirnya membeli itu butuh pemahaman struktur naratif yang kamu latih bertahun-tahun.

Kepekaan makna dan pilihan kata jadi riset keyword yang tajam. Kamu paham bahwa "belajar", "kursus", dan "kelas" punya nuansa berbeda walau artinya mirip. Kepekaan semantik ini bikin riset keyword kamu lebih tajam daripada orang yang cuma melihat angka volume pencarian, karena kamu mengerti kenapa satu kata menarik audiens yang berbeda dari kata lain.

Tapi Jujur, Ini yang Harus Kamu Lengkapi

Skill di atas bikin kamu punya start yang bagus, tapi bukan berarti kamu langsung siap. Ada tiga hal yang harus kamu kejar, dan kabar baiknya semua bisa dipelajari.

Pertama, melek data. Marketing itu diukur. Kamu harus nyaman membaca angka: traffic, conversion rate, hasil A/B testing, dan dashboard seperti Google Analytics. Ini titik yang paling sering dihindari anak humaniora, dan justru di sinilah kamu harus memaksa diri keluar dari zona nyaman.

Kedua, tools. SEO tools, platform iklan, dan analytics itu keterampilan teknis yang bisa dikuasai dalam hitungan minggu, bukan tahun. Ini soal jam terbang, bukan bakat.

Ketiga, mindset performa. Di kampus, nilai sebuah tulisan diukur dari kedalaman dan keindahannya. Di marketing, nilai sebuah konten diukur dari hasilnya: apakah dia mendatangkan traffic, leads, atau penjualan. Pergeseran dari "apakah ini bagus" ke "apakah ini berhasil" adalah penyesuaian mental terbesar yang harus kamu lakukan.

Peran yang Paling Cocok Buat Kamu

Kalau mau langsung menyasar posisi yang paling menghargai skill kamu, incar ini: SEO content writer atau content strategist, copywriter, social media dan community specialist, serta brand atau communication role. Belakangan, UX writer juga makin dicari, dan itu perpaduan pas antara kepekaan bahasa dan logika produk.

Kesimpulannya

Kamu tidak mulai dari nol. Kamu mulai dari fondasi bahasa, analisis, dan makna yang justru susah diajarkan ke orang lain. Yang perlu kamu tambahkan cuma satu lapisan: keterampilan teknis digital marketing. Begitu dua hal ini bertemu, kamu bukan lagi sekadar "lulusan sastra yang banting setir", tapi kandidat yang punya kelebihan yang tidak dimiliki kebanyakan pelamar.

Kalau kamu ingin mulai membangun lapisan teknis itu dari dasar, kamu bisa belajar digital marketing di Digibos, yang materinya dirancang untuk pemula sampai siap terjun langsung ke dunia kerja.

Jumat, 14 Juni 2013

Puisi Jawa




Puisi adalah salah satu jenis karya sastra. Puisi biasanya dikontraskan dengan prosa untuk mengetahui ciri-ciri dan sifat-sifatnya. Puisi adalah jenis karya sastra yang menyampaikan maksud dengan kata-kata sesedikit, seindah, dan setaksa mungkin. Hal ini tentu berbeda dengan prosa yang bentuknya lebih panjang.

Hampir setiap kebudayaan yang mengenal sastra pasti memiliki puisi. Budaya dan sastra Inggris memiliki puisi berbahasa Inggris, budaya dan sastra Arab memiliki puisi berbahasa Arab, begitu pula halnya budaya dan sastra Jawa memiliki puisi berbahasa Jawa. Jadi, puisi jawa adalah puisi yang dihasilkan oleh kebudayaan Jawa dan tentunya menggunakan bahasa Jawa sebagai mediumnya.

Berdasarkan zaman asal dan bahasa yang digunakan, sastra Jawa digolongkan menjadi empat, yaitu:
  1. sastra Jawa kuno,
  2. sastra Jawa pertengahan,
  3. sastra Jawa baru,
  4. sastra Jawa modern.
Sastra Jawa kuno ditulis dengan bahasa Jawa kuno dan berasal dari abad ke-8 hingga abad ke-13, sastra Jawa pertengahan ditulis dengan bahasa Jawa pertengahan dan berasal dari abad ke-13 hingga abad ke 16, sastra Jawa baru ditulis menggunakan bahasa Jawa baru dan berasal dari abad ke-16 hingga abad ke-19,  sastra Jawa modern menggunakan bahasa Jawa modern dan berasal dari abad ke-19 hingga saat ini.

Setiap periode sastra Jawa di atas memiliki bentuk karya sastra masing-masing. Namun, banyak sekali karya sastra Jawa yang berbentuk puisi. Setiap periode di atas memiliki bentuk puisi masing-masing. Sastra Jawa kuno memiliki puisi yang disebut kakawin, sastra Jawa pertengahan memiliki puisi yang disebut kidung, sastra Jawa baru memiliki puisi yang disebut macapat, dan sastra Jawa modern memilik puisi yang disebut geguritan. 

Setiap jenis puisi di atas (kecuali geguritan) memiliki aturan masing-masing. Aturan tersebut mencakup jumlah suku kata setiap baris, jumlah baris setiap bait, dan rima. Geguritan tidak memiliki aturan-aturan tersebut karena geguritan merupakan jenis puisi bebas, sama dengan puisi bebas berbahasa Indonesia.


Jumat, 03 Mei 2013

Fonetik Organis 1




            Fonetik organis adalah bagian linguistik yang membahas cara bahasa dihasilkan oleh organ-organ ucap manusia. Fonetik organis juga sering disebut sebagai fonetik artikulatoris. Sebutan ini mengacu pada kata “artikulator” yang berarti alat ucap. 

            Fonetik organis merupakan cabang ilmu yang sangat bermanfaat bagi orang yang ingin menguasai suatu bahasa dengan sempurna. Hal ini karena inti bahasa adalah pada bunyi, berbeda sedikit saja organ yang digunakan untuk mengucapkan, makna yang dihasilkan oleh suara tersebut akan berbeda. Misalnya, sebuah bunyi bahasa yang seharusnya diucapkan dengan ujung lidah menyentuh gigi bisa sangat berbeda maknanya jika diucapkan dengan ujung lidah menyentuh langit-langit mulut.

             Menurut Peter Ladefoged dalam bukunya A Course in Phonetics (1982) bahasa diprosuksi melalui empat proses, yaitu (1) proses pembunyian, (2) proses aliran udara, (3) proses artikulasi, dan (4) proses oro-nasal.
            Proses pembunyian adalah saat bunyi dihasilkan oleh pita suara yang bergetar. Proses aliran udara adalah saat udara yang bergetar bergerak melewati rongga mulut atau hidung. Proses artikulasi adalah saat udara yang melalui rongga mulut dihambat oleh organ yang berada di mulut sehingga menghasilkan bunyi. Proses oro-nasal mengacu pada pilihan rongga yang dilewati untuk menghasilkan sebuah bunyi bahasa, bunyi bahasa yang dihasilkan oleh rongga mulut disebut bunyi oral, sedangkan bunyi yang dihasilkan oleh rongga hidung adalah bunyi nasal.
             Agar lebih jelas, sebaiknya kita melihat gambar di bawah ini.

            Berikut ini adalah rincian artikulator

Setelah melihat gambar-gambar di atas, kita dapat membayangkan proses bunyi bahasa dihasilkan. Udara yang keluar gari paru-paru menggetarkan pita suara lalu dihambat oleh salah satu dari beberapa artikulator di mulut sehingga menghasilkan bunyi. Misalnya, bunyi "ta" dihasilkan oleh udara yang menggetarkan pita suara dan dihambat oleh lidah yang bertemu gigi.


Sabtu, 04 Februari 2012

Prosa adalah...


Oleh Erwin Prasetyo W.

Prosa merupakan salah satu jenis produk sastra. Hampir semua tulisan yang ada dapat dikategorikan sebagai prosa, entah itu cerpen, koran, karangan, artikel, dan lain sebagainya. Prosa sendiri memiliki kandungan makna atau isi di dalamnya yang tentunya berguna bagi para pembacanya.

Pengertian Prosa
Kata prosa berasal dari bahasa latin prosa yang berarti “terus terang”. Dari definisi harfiah tersebut bisa dijelaskan bahwa prosa adalah suatu jenis tulisan yang menjelaskan atau mendeskripsikan suatu fakta ataupun ide seseorang secara gamblang dan jelas. Prosa sendiri merupakan sebuah karya sastra yang bebas penulisannya dan tidak terikat oleh kaidah-kaidah seperti dalam puisi, sehingga bisa disebut dengan karangan bebas. Prosa dibedakan dengan puisi karena variasi ritme yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya.

Unsur-unsur Prosa
1.    Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik prosa merupakan unsur yang terdapat di dalam prosa tersebut. Unsur-unsur intrinsik prosa secara umum adalah tema, tokoh dan penokohan, latar, alur, amanat, gaya bahasa serta sudut pandang.
1.1.   Tema adalah pikiran utama dalam prosa dan merupakan suatu hal yang paling mendasar dalam sebuah prosa. Dalam menentukan tema sendiri penulis dapat dipengaruhi beberapa sebab, antara lain minat penulis, selera pembaca dan keinginan penerbit atau penguasa.
1.2.   Tokoh dibagi menjadi tiga, yaitu tokoh protagonis, antagonis, dan tambahan, sedang penokohan adalah pemberian watak pada tokoh di dalam cerita tersebut. Ada beberapa metode dalam penentuan watak tokoh, yaitu metode analitis, dramatik dan kontekstual.
1.3.   Latar merupakan bagian yang menjelaskan tentang dimana, kapan dan bagaimana suatu kejadian terjadi. Latar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu latar fisik dan latar sosial.
1.4.   Alur adalah rangkaian kejadian atau jalinan cerita dari awal sampai akhir dalam sebuah prosa. Ada pembagian lagi dalam alur, yaitu alur maju, mundur, dan gabungan. Selain itu alur dapat tersusun berdasar tiga hal, yaitu alur linear, alur kausal, alur tematik.
1.5.   Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh penulis prosa kepada pembacanya yang terdapat dalam prosa tersebut. Amanat dapat disampaikan secara implisit dan secara eksplisit.
1.6.   Gaya bahasa adalah bahasa yang digunakan pengarang dalam menuliskan prosa yang berfungsi untuk menciptakan hubungan antara sesama tokoh dan dapat menimbulkan suatu suasana tersendiri.
1.7.   Sudut pandang adalah cara bercerita ataupun pandangan pengarang untuk menampilkan suatu kejadian.
2.    ­Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang mempengaruhi suatu prosa dari luar. Unsur ekstrinsik juga melatarbelakangi pembuatan sebuah prosa. Unsur ekstrinsik antara lain seperti nilai sosiologi, nilai kesejarahan, nilai moral, nilai psikologi. Selain itu ada juga unsur yang datangnya subyektif dari pengarang, seperti kondisi sosial, motivasi, serta tendensi yang mendorong dan mempengaruhi karangan seorang penulis.

Jenis-jenis Prosa
Secara umum prosa terbagi menjadi dua, yakni prosa fiksi dan prosa nonfiksi,
1.      Prosa fiksi adalah prosa yang berisi tentang rekaan atau khayalan penulisnya. Isinya tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Prosa fiksi disebut juga karangan narasi sugestif/imajinatif. Contoh prosa fiksi adalah cerpen, novel, dan dongeng.
Prosa nonfiksi adalah prosa yang berisi hal-hal yang berupa informasi faktual (kenyataan) atau berdasarkan pengamatan pengarang. Karangan ini diungkapkan secara sistematis, kronologis, atau kilas balik dengan menggunakan bahasa semiformal. Prosa nonfiksi biasa disebut karangan semi ilmiah. Contoh prosa nonfiksi antara lain adalah artikel, tajuk rencana, opini, feature, tips, biografi, reportase, iklan, pidato, dan 


Referensi:

Jenis Fonetik



Fonetik oleh para ilmuwan dibagi menjadi tiga bagian. Fonetik Organis, Fonetik Akustis, dan Fonetik Auditoris. Pembagian ini berdasarkan perjalanan bunyi bahasa dari pertama dihasilkan hingga terdengar di telinga.
Fonetik Organis mempelajari bagaimana alat-alat bicara manusia menghasilkan bunyi-bunyi bahasa, bagaimana bunyi-bunyi tersebut dikelompokkan berdasarkan alat ucap dan cara mengucapkannya. Pengelompokan-pengelompokan tersebut untuk melihat perbedaan antara bunyi satu dengan lainnya. Karena perbedaan-perbedaan itu nantinya akan mempengaruhi makna suatu bahasa, maka fonetik jenis ini dianggap berhubungan dengan ilmu linguistik.
Fonetik Akustis mempelajari bunyi bahasa ketika bunyi tersebut berada diudara. Bunyi bahasa di sini akan dilihat dari segi fisiknya. Diselidiki frekuensi, amplitudo, intensitas, dan timbrenya. Fonetik jenis ini lebih mendekati ilmu fisika.
Fonetik Auditoris mempelajari bagaimana mekanisme telinga menerima bunyi bahasa sebagai getaran udara (Bronstein & Beatrice F. Jacoby, 1967:70-72). Fonetik jenis ini menurut Marsono dalam bukunya lebih cenderung dimasukkan ke neurologi ilmu kedokteran. Ternyata ilmu bahasa tidak jauh dari bidang-bidang Ilmu pengetahuan Alam.
Karena tema blog kita ini adalah budaya, maka yang akan dibahas pada tulisan selanjutnya hanya Fonetik yang paling dekat dengan ilmu pengetahuan budaya, yaitu Fonetik Organis.

Definisi Fonetik


Sebelum masuk ke Fonetik Jawa terlebih dahulu kita bahas apa itu fonetik.
Fonetik adalah salah satu bagian ilmu linguistik.
Linguistik adalah ilmu tentang bahasa, dengan demikian berarti fonetik adalah ilmu yang juga membicarakan bahasa.
Lalu bagian bahasa yang mana yang dipelajari oleh fonetik?
Dilihat dari namanya, fonetik, istilah ini mengandung kata “fon”, Seperti berasal dari kata dalam bahasa Inggris “phone” yang berarti suara. Sisanya adalah “tik”, apa artinya? Entahlah. Yang jelas dari melihat namanya kita dapat mengira-ngira fonetik adalah ilmu yang ada hubungannya dengan suara.
Begitulah adanya. Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan berusaha merumuskan secara teratur tentang hal ikhwal bunyi bahasa (Marsono, -: 1). Fonetik mempelajari bunyi bahasa tanpa melihat fungsi maknawi bunyi tersebut. Yang dipelajari hanya cara bunyi dihasilkan, frekuensi, intensitas, timbrenya, dan bagaimana bunyi tersebut diterima oleh telinga.
Mari kita mengingat-ingat saat pertama kali kita mendengar bahasa Inggris. Bukankah kita kesulitan mendengar dengan jelas dan memahami bunyinya? Apalagi memperkirakan tulisannya. Beberapa bunyi dalam bahasa Inggris terdengar mirip dengan bunyi dalam bahasa Indonesia, namun ada bunyi-bunyi lain yang tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Dalam Fonetik kita akan mempelajari bunyi-bunyi tersebut dan kemudian merumuskan bagaimana caranya dihasilkan, berapa frekuensi, intensitas, dan timbrenya, lalu bagaimana bunyi tersebut diterima oleh telinga. Sehingga fonetik mempunyai manfaat yang dapat diambil oleh orang yang berminat menjadi peneliti bahasa, yaitu dapat merumuskan bunyi apa saja yang digunakan oleh suatu bahasa.Selain itu ada manfaat secara praktis bagi masyarakat umum yaitu agar kita dapat lebih mudah melafalkan suatu bunyi bahasa secara benar. Belajar bahasa asing menjadi lebih mudah.

Definisi Bahasa



Apa yang muncul di pikiran anda ketika ditanya apa itu bahasa? Biasanya yang terbayangkan adalah tulisan, kamus, atau karya sastra. Mari kita hapus dulu gambaran kita tentang bahasa yang seperti itu sebelum memasuki bidang linguistik.
Menurut Harimurti Kridalaksana, bahasa bagi linguistik adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Definisi tersebut membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Mari kita bahas.
Bahasa adalah sebuah sistem. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi sistem adalah perangkat unsur yg secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Ya, bahasa adalah sesuatu yang teratur dan saling berkaitan. Kita tidak akan menyadari itu sebelum mempelajari Linguistik.
Bahasa disebut tanda bunyi karena dasar dari bahasa adalah bunyi. Bunyi tersebut menandai atau memberi nama suatu hal. Misalnya kata “mengantuk” digunakan untuk menandai “sebuah keadaan saat kita merasa ingin tidur”.
Bahasa adalah hasil kesepakatan sebuah kelompok masyarakat. Kesepakatan tidak selalu berarti hasil sebuah pertemuan sebuah kelompok dalam satu ruangan. Sepakat dapat berarti menerima atau setuju. Misalnya seseorang warga negara Indonesia dalam kesehariannya mau menggunakan kata “mengantuk untuk menandai  “sebuah keadaan saat kita merasa ingin tidur”.
Bahasa digunakan untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Dalam kehidupan sehari-hari bahasa –yang berupa suara- digunakan untuk berkomunikasi. Dengan berkomunikasi kita dapat bekerja sama. Di samping itu bahasa digunakan untuk mengidentifikasi diri. Contohnya orang yang berbahasa Jawa hampir dapat dipastikan adalah orang Jawa.

Senin, 10 Oktober 2011

Sastra adalah...



Gambar dari boekoe-gratis.blogspot.com

Sampai saat ini, masih sering diperdebatkan definisi dari sastra. Para ahli belum bisa merumuskan teori yang pas tentang pengertian sastra, karena sastra senantiasa berkembang dan tidak memiliki ukuran yang tetap. Setiap teori yang muncul selalu dibantah oleh pendapat-pendapat lain yang lebih baru. Pada tulisan ini akan dibahas beberapa pendapat tentang apa itu sastra, hakikat sastra, dan fungsi sastra.
Kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta; akar kata sas-, berarti ‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi’. Akhiran –tra biasanya menunjukkan alat atau sarana. Maka sastra bisa diartikan ‘alat untuk mengajar’(Teeuw, 1984: 23). Dalam definisi dari segi bahasa ini, dapat difahami jika sastra lebih diartikan sebagai suatu media. Sastra juga didefinisikan sebagai alat untuk menyampaikan ide-ide. Dalam filsafat Plato disebutkan bahwa keindahan hanya terdapat dalam tingkat dunia ide (Teeuw, 1984: 347). Secara sederhana dapat difahami bahwa untuk dapat mencapai kategori indah, harus merupakan sesuatu yang baru dan orisinil. Sastra dalam teori ini didefinisikan sebagai sebuah seni.
Pengertian sastra kemudian mengerucut mengerucut; sastra sebagai ilmu dan sastra sebagai seni. Ilmu sastra diartikan sebagai ilmu menyampaikan sesuatu dengan baik (Weststeijn, dkk, 1989: 41).. Seni sastra adalah seni bahasa yang menjadi ungkapan emosi dan pengalaman-pengalaman pembuatnya. Melihat pengertian seni dari sudut pandang ilmu dan sastra tersebut, kita dapat memahami bahwa hakikat sastra adalah media untuk menyampaikan sesuatu.
Fungsi sastra selalu meluas seiring bertambahnya isi dalam karya sastra. Meskipun mempunyai fungsi asli sebagai media ekspresi, akan tetapi sastra juga mempunya fungsi-fungsi turunan mengikuti apa yang diekspresikan sebuah karya sastra. Contohnya, jika sebuah karya sastra di dalamnya mengandung nilai-nilai moral, maka karya sastra tersebut mempunyai fungsi moralitas.
Sebagai sebuah ilmu, sastra harus mampu mengungkapkan pola fikir, kebudayaan, dan nilai moral suatu kelompok masyarakat yang menghasilkan karya sastra. Sehingga diharapkan pelajar sastra (khususnya sastra lokal) dapat memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Pustaka :
Teew, A., 1984, Sastra dan Ilmu Sastra, Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya.
Weststeijn, G Willem, dkk., 1989, Pengantar Ilmu Sastra, Jakarta: PT Gramedia

Jumat, 19 Agustus 2011

Sastra Jawa UI


Apakah anda tahu di Universitas Indonesia ada Program Studi Sastra Jawa?  

       Saya bertanya demikian kerena masih banyak orang yang belum mengetahui program studi ini. Di tengah nama besar Universitas Indonesia, Sastra Jawa termasuk program studi yang kurang populer dibandingkan Kedokteran, Akuntansi, ataupun Sastra Inggris. Padahal program studi ini satu-satunya program studi yang keindonesiaan di Universitas Indonesia, selain Sastra Indonesia tentunya. Hmm...program studi ini sepertinya sealiran dengan blog kita ini, maka dari itu mari membahasnya.
       Sastra Jawa adalah salah satu program studi pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Sesuai dengan namanya, fokus pembelajaran program studi ini adalah sastra dan kebudayaan Jawa. Unik bukan? Kalau tidak salah universitas negeri di Indonesia yang memiliki Program Studi Sastra Jawa hanya ada tiga: Universitas Indonesia, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS), dan Universitas Gajah Mada (UGM). Di UGM pun namanya bukan Sastra Jawa melainkan Sastra Nusantara. Karena keunikannya tersebut Sastra Jawa sering dianggap sebagai jurusan yang tidak jelas masa depannya,tidak jelas lapangan kerjanya, dan ketidakjelasan-ketidakjelasan yang lain. Akibatnya sangat sedikit calon mahasiswa yang berminat mendaftar di Sastra Jawa. Lebih tragis lagi sebagian yang telah diterima tersebut masuk di Sastra Jawa karena ditolak di jurusan-jurusan lain pilihan utama mereka. Kalaupun ada mereka yang telah mendaftar pilihan utama Sastra Jawa UI dan kemudian diterima, kebanyakan akan bingung jika ditanya setelah lulus mau jadi apa. Sebagian kecil yang tidak bingung akan menjawab menjadi dosen atau guru bahasa jawa. Pilihan yang aman.
       Sebenarnya masa depan Sastra Jawa UI tidak segamang itu juga. Sastra Jawa UI mempunyai tujuan melahirkan ilmuwan dan peneliti-peneliti baru. Tentunya peneliti di bidang Sastra dan Kebudayaan Jawa. Sehingga seluruh sistem pembelajarannya dirancang agar bisa mencapai tujuan tersebut. Mahasiswa Sastra Jawa UI tidak dididik untuk menjadi pelaku kebudayaan Jawa seperti dalang, sinden, atau pemain gamelan. Kegiatan-kegiatan seperti bermain wayang, gamelan, nembang hanya dijadikan sebagai kegiatan ekstra di luar kelas. Hal ini dimaksudkan agar Mahasiswa menjadi peneliti yang obyektif. Mengambil jarak dan mengamati kebudayaan Jawa dari luar membuat kita bisa lebih obyektif dalam menilai kebudayaan tersebut daripada menjadi pelakunya langsung.
Untuk tujuan tersebut pula, mahasiswa banyak dibekali dengan mata kuliah-mata kuliah teori. Berikut ini adalah daftar mata kuliah wajib Program Studi Sastra Jawa Universitas Indonesia yang diberikan untuk mahasiswa angkatan 2010 lalu:

Semester 1
1. Pengantar Linguistik Umum
2. Pengantar Kesusastraan Jawa
3. Penguasaan Bahasa Jawa I
4. Aksara Nusantara: Jawa, Sunda, Bali, Pegon.

Semester 2
1. Fonetik dan Fonologi Jawa
2. Penguasaan Bahasa Jawa II

Semester 3
1. Morfologi dan Sintaksis Jawa
2. Pengkajian Prosa dan Drama Jawa
3. Kesenian Jawa
4. Penguasaan Bahasa Jawa III
5. Pengantar Filologi
6. Pengantar Kebudayaan Jawa

Biasanya tiap angkatan susunan mata kuliah yang didapat akan berbeda, namun perbedaannya hanya sedikit. InsyaAllah blog kita ini akan membahas beberapa mata kuliah di atas.

Pembukaan


Bismillahirrahmanirrahiim.

Assalau'alaikum Wr. Wb.

Selamat malam saudara-saudara.

Puji Syukur kita ucapkan kepada Allah SWT atas berkat rahmatnya sehingga kita bisa membuka blog ini. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Blog ini dibuat dengat tujuan untuk menambah bahan bacaan mengenai Sastra dan Budaya Jawa yang masih sangat sedikit di dunia maya saat ini. Nama "Madubranta" diambil dari nama sebuah corak batik Jawa. Batik Madubranta biasanya diberikan pengantin pria kepada pengantin wanita sebagai perlambang cinta kasih dalam upacara pernikahan adat Jawa. Begitupula saya menggunakan nama Madubranta untuk blog ini karena blog ini sebagai wujud cinta saya pada Sastra dan Budaya Jawa. Semoga blog ini bermanfaat untuk kita semua.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.